Senin, 12 Juli 2010

Cara Jembrana Menjadi Digital City

Monday, July 5th, 2010
oleh : A. Mohammad BS

Meski relatif miskin sumber daya alam, Kabupaten Jembrana mampu menjadi digital cityyang kini menjadi rujukan daerah lain. Berbagai layanan canggih — seperti yang dirasakan warga negara-negara maju — sudah bisa dinikmati warga Jembrana. Salah satu kunci utama keberhasilannya: gotong-royong.

"Biar tidak kaya, yang penting inovatif dan kreatif." Prinsip ini sepertinya dipegang oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. Betapa tidak, hingga tahun 2000, Jembrana tak lebih dari sebuah perlintasan arus wisatawan domestik dari Pulau Jawa menuju Denpasar. Jembrana tak memiliki sumber daya alam dan objek wisata yang menonjol. Tak mengherankan, dengan PAD Rp 2,3 miliar per tahun beberapa tahun lalu itu, Jembrana merupakan kabupaten dengan PAD terendah di antara 8 kabupaten dan kota di Bali .

Akan tetapi, dengan segala keterbatasannya, Jembrana justru kini bisa dibilang sebagai salah satu kabupaten paling modern di Indonesia — dibandingkan DKI Jakarta sekalipun. Jembrana juga bisa menjadi pionir dalam hal pemanfaatan teknologi informasi bagi peningkatan pelayanan kepada masyakaratnya.

Contohnya, sementara di DKI Jakarta para pegawai pemerintah dan warganya memiliki beberapa kartu (KTP, kartu pegawai, kartu Jamsostek/kartu asuransi, NPWP, dan sejumlah kartu lainnya), di Jembrana tidak seperti itu. Di kabupaten ini, setiap pegawai pemerintah dan siswa sekolah cukup menyimpan satu kartu yang memiliki beragam fungsi: sebagai KTP, kartu pegawai atau kartu pelajar yang merangkap kartu absen, kartu ATM hingga kartu untuk pembayaran belanja di kantin sekolah. Hebatnya lagi, kartu itu berisi data rekam medis dan berfungsi sebagai kartu berobat ke dokter atau rumah sakit. Kartu multifungsi itu disebut Jembrana Smart Card (J-Smart). Kartu ini boleh dibilang sebagai terobosan dari Pemkab Jembrana dalam rangka meningkatkan kinerja layanan publiknya dengan memanfaatkan TI.

Tak hanya itu. Ketika konsep digital cityatau cyber citymasih diwacanakan di seantero Indonesia , Jembrana sudah menerapkannya. Kabupaten yang terletak di bagian paling barat Pulau Bali itu merupakan contoh sukses dan dijadikan rujukan dalam pewujudan digital city.Dalam hal pemanfaatan TI, Jembrana memang selalu terdepan dan inovatif. Dan, keberanian Jembrana dalam mengadopsi solusi TI tersebut tidak lepas dari sosok Prof. Dr. drg. I Gede Winasa, sang bupati. "Kami ini miskin, tapi sombong," ucap Winasa dengan nada canda.

Maklumlah, sebagai daerah minus, Winasa malah berani-beraninya memutuskan memanfaatkan TI, yang tentu saja biayanya tidak murah. Sang bupati intelek ini memiliki keyakinan TI akan sangat membantu kemajuan daerahnya. Di sisi lain, pembenahan birokrasi dan SDM pun gencar dilakukan. Apa saja inovasi Jembrana dalam mempraktikkan e-government (e-gov) menuju kota digital guna memberikan pelayanan sebaiknya-baiknya kepada masyakaratnya?

Salah satu gebrakan awal Winasa adalah pengembangan website 2001. Tujuannya, mempermudah interaksi dengan warga. Namun, terbatasnya warga Jembrana dalam mengakses Internet menyebabkan hasil yang diharapkan tidak maksimal. Meski demikian, Pemkab Jembrana tak putus asa. Seiring dengan maraknya pemakaian telepon seluler, Pemkab menyiasatinya dengan mengembangkan layanan SMS gateway. , respons terhadap layanan SMSgatewayini cukup bagus. Setiap hari ratusan SMS berisi pengaduan hingga permohonan masuk ke Pemkab — yang dijawab dan ditindaklanjuti dalam waktu maksimum tiga hari.

Menurut I Komang Wiasa, Kepala Dinas Hubungan Komunikasi dan Informasi Kab. Jembrana, cepatnya respons terhadap SMS yang masuk, karena SMS itu langsung dilkomunikasikan ke bagian-bagian terkait secara elektronik sesuai dengan konsep "kantaya" (kantor maya). "Padahal, ketika mengawali menerapkan TI, Pemkab Jembrana tidak mempunyai SDM TI. Untuk itu, pada 2001 kami menjalin kerja sama dengan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT untuk mendapatkan teknologi dan dukungan teknis dengan anggaran terbatas," ujar Wiasa.

Salah satu megaproyek pengembangan TI yang dilakukan Pemkab Jembrana adalah Jimbarwana Network (J-Net) — infrastruktur jaringan yang mengintegrasikan kecamatan, desa dan sekolah-sekolah se-Kabupaten Jembrana — pada Maret 2007. Tujuan pengembangan J-Net adalah meningkatkan kualitas layanan publik, menjalankan kelola pemerintahan yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan (e-learning), dan memasyarakatkan TI. "Konsep pengembangan TI Jembrana adalah e-development. tidak sekadar ingin menjadikan Jembrana sebagai daerah yang menjalankan e-government, melainkan perpaduan penerapan e-leadership, e-government, e-society, e-businessyang terhubung dalam infrastruktur, " Wiasa menuturkan.

Dijelaskan Wiasa, pembangunan backboneJ-Net dimulai dari pusat pemerintahan kabupaten yang berhubungan dengan Network Operating Center (NOC). Dari pusat jaringan backbonedipancarkan sinyal ke dua arah yang berbeda. Ke timur mengarah ke Kantor Camat Mendoyo dan Camat Pekutatan. Lalu, ke barat mengarah ke Kantor Camat Melaya. Diklaim Wiasa, jaringan backboneKab. Jembrana ini ditopang oleh perangkat teknologi tinggi Speed LAN (local area network)yang menjadi standar militer Amerika Serikat.

Dijelaskan Wiasa, pembuatan infrastruktur jaringan komputer di Jembrana menggunakan konsep De Militerized Zone (DMZ):semua server utama diletakkan pada daerah bebas gangguan keamanan yang diapit dua firewall. Firewall merupakan exterior firewallyang menggunakan perangkat bridge firewall(diletakkan pada NOC). Pada gatewaydiberikan fasilitas Virtual Private Network (VPN) untuk menjaga kerahasiaan pengiriman data, baik voicemaupun non-voicedari dan ke luar jaringan Kab. Jembrana. Adapun komputer clientdiberi softwareVPN Client. Firewallkedua diletakkan pada sisi intranet yang dilengkapi juga dengan VPN serveryang dipasang pada router. Fungsi VPN ini untuk menjamin kerahasiaan pengiriman data. Sebab, antara NOC dan clientmasih menggunakan wireless — keamanannya masih sangat rendah.

Pengembangan jaringan infrastruktur (backbone) J-Net ini menghabiskan biaya Rp 5 miliar. J-Net mempunyai kapasitas bandwidthhingga 11 Mbps — cukup besar dan cepat untuk mengirim data teks, data suara, ataupun data gambar/video. Bahkan, J-Net juga bisa digunakan untuk layanan VoIP dan video conference.

Diakui Wiasa, bagi Jembrana investasi untuk membangun J-Net ini sangat besar. Pendanaannya, selain dari APBD, juga dari sumbangan warga. Antara lain, tiap sekolah menyumbang Rp 30 juta, sumbangan tiap desa sebesar Rp 40 juta, dan kecamatan mengeluarkan Rp 60 juta. "Menjadikan Jembrana sebagai cyber citybenar-benar dilakukan secara gotong-royong, " ujar Wiasa bangga.

Hasilnya? Kini, J-Net bisa menghubungkan kantor kabupaten dengan lima kantor kecamatan, 51 kantor desa, 10 kantor kelurahan, 240 sekolah, puskesmas, rumah sakit dan telecenteryang ada di Jembrana. Hingga tahun ini ditargetkan jumlah titik jaringan berbasis Internet ini bisa mencapai 253.

Kehadiran J-Net pun telah memicu pengembangan dan implementasi sistem TI yang baru. Antara lain, Jembrana Satu Identitas Kesehatan (J-Sidik) yang mengintegrasikan Sistem Informasi Manajemen Pemerintah Daerah dengan sistem Jaminan Kesehatan Jembrana. Pengembangan terbaru yang digagas Winasa adalah Millenium Development Goals (MDGs) di mana pencapaian MDGs ditampilkan dalam bentuk peta digital yang menggambarkan kondisi MDGs di seluruh banjar di Kab. Jembrana. Mappingini dapat dimonitor oleh petugas posyandu, aparat desa, camat hingga bupati, dengan mengakses situs web yang terhubung dengan J-Net.

Selain itu, Pemkab Jembrana mulai memperkenalkan layanan e-ticket untuk keperluan transportasi massal dengan tarif murah — walaupun untuk sementara layanan ini baru bisa dinikmati pegawai negeri sipil (PNS). Melalui layanan e-ticket, setiap bus sudah dilengkapi komputer untuk membaca KTP SIAK milik PNS yang menumpang dan telah terintegrasi dengan rekening masing-masing sehingga langsung memotong Rp 1.000 untuk satu perjalanan.

Tidak hanya itu, sekarang masyarakat Jembrana bisa memanfaatkan komputer layar sentuh yang terpasang di Kantor Pemkab untuk mendapatkan informasi tentang layanan. Termasuk, biaya layanan sebelum mengajukan permintaan layanan. "Praktik calo dan korupsi sudah bisa diberantas," kata Wiasa.

Sekolah-sekolah di Jembrana pun sudah terhubung dengan program jaringan pendidikan nasional (jardiknas). Bahkan, J-Net juga dimanfaatkan sekolah untuk absensi, perpustakaan, kantin, video edukasi hingga saat pemilihan ketua OSIS (melalui cara e-voting).

Gebrakan terbaru Winasa adalah memanfaatkan TI untuk melakukan e-voting pemilihan kepala dusun dan kepala desa. Penerapan e-voting untuk menghemat biaya serta mempersingkat dan memudahkan proses pemilihan. Selain itu, dengan menggunakan kartu chipsebagai kartu identitas penduduk dan bagian dari sistem verifikasi, penyimpangan proses pemilihan dapat dihindari. Dengan sistem ini, calon pemilih hanya menggunakan kartu tanda penduduk yang sudah dilengkapi chip data untuk mendaftar, kemudian menuju bilik suara dan menyentuh gambar calon yang tertera pada layar monitor. Prosesi itu dilakukan tidak sampai setengah menit untuk satu pemilih. Hasil dari sistem ini bisa segera terpampang di layar monitor dan bisa dihitung seketika, sehingga siapa pemenangnya dan jumlah suara yang diperoleh bisa diketahui. "Menuju e-government harga mati yang dicanangkan Pemkab. Walaupun tidak sedikit kendala yang harus dihadapi, seperti keterbatasan dana, pengetahuan, infrastruktur
serta budaya kerja," ujar Wiasa. "Jembrana sudah mencanangkan diri menuju cyber citydengan menempatkan TI sebagai tulang punggung dalam memberikan pelayanan agar menjadi lebih efektif dan efisien," Winasa menambahkan.

Menariknya, untuk mempraktikkan e-govdan menuju kota digital ini masyakarat Jembrana tidak dipungut biaya. Misalnya, untuk mengurus e-KTP dilengkapi chip, tidak ada biaya alias gratis. Saat ini 71% penduduk Jembrana telah memiliki e-KTP bisa difungsikan sebagai kartu berobat gratis, baik ke rumah sakit umum maupun swasta, pelayanan ambulan hingga ke rumah sakit rujukan di Denpasar juga digratiskan. Bahkan, di Denpasar, Pemkab menyediakan rumah singgah berkapasitas 20 kamar bagi masyarakat Jembrana dengan hanya menunjukkan KTP. Tidak hanya pembuatan KTP yang digratiskan, akta kelahiran dan akta perkawinan juga bisa didapatkan secara gratis.

Di sisi lain, perekonomian Jembrana pun mulai bergerak naik, yang diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Ketika mulai menjabat, Winasa mewarisi PAD sebesar Rp 2,3 miliar, tetapi belum habis masa jabatan pertamanya ia telah berhasil mendongkrak PAD Jembrana menjadi Rp 8,5 miliar. Sekarang, di akhir masa jabatan keduanya PAD Jembrana telah mencapai Rp 20 miliar. Tak mengherankan, ketika diadakan survei kepuasan rakyat terhadap pemerintah, nilainya 90,08%. Diklaim Winasa, dari 270.795 jiwa penduduk pada 2009, tercatat hanya 4.800 orang yang masih termasuk keluarga miskin. "Tahun 2010 ini Jembrana bisa bebas dari keluarga miskin," ujar Winasa menegaskan.

Selain itu, sekarang Pemkab Jembrana bisa memasok sendiri SDM TI yang dibutuhkan, dengan mendirikan Sekolah Tinggi Teknik Jembrana. Pada 2006 Pemkab hanya punya satu tenaga sarjana komputer, sedangkan pada 2009 meningkat menjadi 78 sarjana S-1, dua orang lulusan S-2, dan 14 tamatan D-3, serta dibantu juga oleh 200 mahasiswa dan 150 siswa dari SMK TI. Dengan SDM ini, Pemkab mulai bisa mengembangkan aplikasi sistem kepegawaian dan sistem informasi untuk Jaminan Kesehatan Jembrana. Memanfaatkan tenaga ini juga, Pemkab sukses melakukan sistem pelayanan satu atap, yang benar-benar hanya satu loket tanpa ada tatap muka karena semua dilakukan dengan komputer yagn menggunakan free open source software.

Pemanfaatan TI oleh Pemkab Jembrana dirasakan benar oleh Putu Suardika, warga Jembrana yang saat ini melanjutkan kuliah di Denpasar. Hanya dengan menunjukkan KTP SIAK, Putu dibebaskan dari seluruh biaya saat berobat di Nita Klinik, Denpasar. Sebagai mahasiswa di perantauan, Putu merasa sangat terbantu dengan adanya program digital cityini. "Saya harap Pemkab Jembrana bisa mengembangkan kerja sama dengan lebih banyak klinik swasta di seluruh kabupaten di Bali ," katanya. "Selain itu," ia menambahkan, "saya bangga sekarang Jembrana banyak dilirik dunia karena keberhasilannya memanfaatkan TI, sehingga menjadi cyber citypertama di Indonesia ."

Menurut catatan Wiasa, selama Januari hingga pertengahan Juni 2010 saja Pemkab sudah menerima 1.837 rombongan, baik pemerintah maupun swasta, yang ingin tahu bagaimana pemanfaatan TI di Jembrana. Agar tidak mengganggu kinerja, Pemkab terpaksa membatasi hanya bisa menerima tamu setiap Selasa, sesuai dengan jadwal bupati melakukan teleconferencedengan masyarakat umum dan aparat bawahannya di dusun-dusun.

Kehebatan Jembrana dalam pemanfaatan TI bagi kemaslahatan warganya diakui praktisi TI Gatot Santoso. Bahkan, Gatot berani menilai bahwa pemkab kabupaten ini sudah layak dijadikan contoh sebagai pemkab yang mempraktikkan e-gov daerahnya telah menjadi digital city. , secara umum, ia menilai penerapan e-gov sejumlah pemkab/pemkot di Indonesia belum merata. Masyarakat masih relatif sulit mengakses informasi, serta mengurus pembuatan kartu pengenal dan pencatatan lainnya (KTP, paspor, SIM, akta kelahiran, pindah alamat, pernikahan, dan sebagainya). Begitu pula, bila para investor ingin melakukan investasi di suatu daerah. Lain halnya di Kab. Jembrana. "level pemerintahan, Kab. Jembrana merupakan salah satu yang sudah leadingdalam penerapan digital city,"ujar Senior VP Wilayah Usaha Tengah PT Aplikanusa Lintasarta itu.

Menurut Gatot, ada beberapa kendala yang dihadapi pemkab/pemkot guna menuju kota digital. Pertama, perencanaan dan implementasinya biasanya masih dilakukan sendiri-sendiri. Padahal dalam konsep digital cityini, teknologi sifatnya standar. "Gunakan saja teknologi yang sudah standar di pasar, baik software, hardware sistem komunikasinya. Kunci utama adalah di sistem prosedur dan standardisasi, " Gatot mengingatkan. Dari sisi perencanaan, saat ini di beberapa tempat masih tergantung pada visi dan urgensi kepala daerahnya. Jika kepala daerahnya kurang mendukung ke arah ICT dan digital city, tentunya anggaran yang disediakan dan bisa dipakai menjadi nomor sekian. Selain itu, pelaksanaannya masih diberlakukan seperti proyek tahunan. Padahal, menurutnya, konsep digital cityseharusnya adalah proyek multi-yearsdan selalu berkesinambungan.

Kendala kedua, standardisasi yang berbeda menyebabkan interkoneksi antarsektor menjadi sulit. Misalnya, interkoneksi pemerintah dengan perbankan, sistem asuransi, rumah sakit dan institusi pendidikan. Perbedaan ini bisa dalam sistem prosedurnya, jumlah digit nomor penduduk/nasabah, interfacingsistem, dan sebagainya. "Untuk aspek perencanaan, seharusnya dilakukan pemerintah pusat. Dipimpin Kominfo dan melibatkan departemen-departem en terkait. Dalam pelaksanaannya, kembali ke konsep focus your own business," Gatot menyarankan.

Reportase: Silawati, Moh. Husni Mubarak/Riset: Rachmanto Aris D.

Sumber : Swa

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Minggu, 11 Juli 2010

SPANYOL JUARA PIALA DUNIA 2010

Goal.com
Spanyol memastikan diri sebagai yang terbaik di Piala Dunia 2010 setelah mengalahkan Belanda di laga final dengan skor 1-0 di Soccer City Stadium, Johannesburg, Senin (12/7) dinihari WIB.

Adalah Andres Iniesta yang menjadi pahlawan kemenangan Spanyol dengan gol tunggalnya ke gawang Belanda di babak kedua perpanjangan waktu.

Spanyol juga sukses mengawinkan gelar juara setelah dua tahun lalu meraih tropi Piala Eropa dengan mengalahkan Jerman di laga final.

Sementara Belanda harus kembali puas untuk ketiga kalinya harus menjadi runner up di turnamen akbar Piala Dunia. Sebelumnya mereka juga menjadi runner up di tahun 1978 dan 1974.

Jalannya Pertandingan

Spanyol sudah membuka kesempatan di menit kelima lewat sundulan Sergio Ramos. Akan tetapi, dalam ujian pertamanya, Maarten Stekelenburg berhasil mengamankan gawangnya dengan baik.

David Villa menguji peruntungannya di menit 12. Bola hasil sepakannya hanya melebar dari gawang.

Howard Webb juga tak ketinggalan menunjukkan aksinya dengan mengeluarkan lima kartu kuning dalam rentang waktu 13 menit untuk lima pemain berbeda.

Di menit 34, Iker Casillas salah memperhitungkan datangnya bola fair play yang ditendang Gregory Van Der Wiel. Bola lambung memantul ke kotak penalti dan gagal dijangkaunya. Untungnya bola tipis melebar dari gawang.

Tiga menit berselang, Joris Mathijsen membuang peluang matang yang didapatnya karena gagal menendang bola yang melintas pelan dengan kaki kiri. Padahal dia sudah berada dalam posisi tak terkawal di kotak penalti Spanyol.

Memasuki masa injury time babak pertama, Arjen Robben mendapat kesempatan lewat tendangan kaki kiri. Akan tetapi bola yang mengarah ke tiang dekat gawang Spanyol berhasil diamankan dengan baik oleh kapten tim Iker Casillas.

Di babak kedua, giliran Joan Capdevilla yang gagal menyapu bola ketika berada di kotak penalti Belanda dalam posisi tak terkawal. Momentum itu terjadi ketika pertandingan baru berjalan tiga menit.

Peluang matang didapat Belanda di menit 62. Lewat serangan balik cepat, Robben lolos dari jebakan offside dan berhadapan satu lawan satu dengan Casillas. Akan tetapi, bola tendangannya berhasil dihadang kiper nomor satu Spanyol itu dengan kakinya. Skor 0-0 pun tetap bertahan.

Di menit 69, David Villa memiliki kesempatan membawa timnya memimpin jika saja bisa lebih tenang dalam melepas tendangan ke arah gawang yang dalam posisi tak terkawal.

Memasuki menit ke-77, Sergio Ramos menyambut bola sepak pojok Xavi dengan kepalanya dan dalam kondisi tak terkawal. Akan tetapi, bola sundulan kepalanya masih tipis melintas di atas mistar gawang Stekelenburg.

Robben kembali mendapat kesempatan untuk membawa timnya memimpin lewat aksi individunya di menit 83. Namun Casillas berhasil membaca pergerakannya dan mencuri bola dari Robben.

Kedua tim terus menekan di sisa pertandingan. Namun hingga berakhirnya waktu normal, skor 0-0 tetap bertahan. Pertandingan pun dilanjutkan ke babak tambahan waktu.

Di awal babak perpanjangan waktu pertama, Stekelenburg melakukan penyelamatan penting dengan menghalau tendangan Cesc Fabregas yang masuk ke babak kedua. Belanda membalas dengan sundulan Mathijsen yang masih tipis di atas mistar gawang Casillas.

Di menit 100, Jesus Navas mencoba peruntungannya dengan melepas tendangan dari dalam kotak penalti. Namun bola berhasil diblok Van Bronckhorst yang membuat bola melebar dari gawang. Bek veteran Belanda itu sebelumnya juga melakukan intersep penting dengan menghalau sepakan Iniesta. Tendangan Fabregas juga masih melebar dari gawang.

Di paruh kedua babak perpanjangan waktu, Belanda kehilangan salah satu pemainnya, John Heitinga, karena akumulasi dua kartu kuning. Bek Belanda itu melanggar Iniesta jelang masuk ke kotak penalti mereka. Hadiah tendangan bebas pun diberikan kepada Spanyol, namun gagal dimaksimalkan Xavi yang maju sebagai eksekutor.

Di menit 116, Spanyol akhirnya bisa memecah kebuntuan. Iniesta yang mencetak gol lewat tendangan kerasnya dari dalam kotak penalti, setelah mendapat bola sodoran dari Xavi.

Tak pelak gol tersebut disambut dengan meriah kubu Spanyol. Semua pemain di bangku cadangan pun mengejar Iniesta dan merayakan golnya di pinggir lapangan.

Belanda yang memiliki waktu kurang lebih empat menit berusaha untuk mengejar ketertinggalan mereka. Akan tetapi, hingga berakhirnya pertandingan, skor 1-0 untuk kemenangan Spanyol tetap bertahan. SPANYOL PUN MENJADI JUARA DUNIA 2010.

Susunan Pemain:
Belanda: Stekelenburg, Van Bronckhorst (Braafheid 105), Mathijsen, Heitinga, Van der Wiel, De Jong (Van der Vaart 99), Van Bommel, Kuyt (Elia 71), Sneijder, Robben, Van Persie

Spanyol: Casillas, Capdevilla, Puyol, Pique, Sergio Ramos, Xabi Alonso (Fabregas 87), Busquets, Pedro (Navas 60), Xavi, Iniesta, Villa (Torres 106)

Sabtu, 10 Juli 2010

Guru Berprestasi, Inspirasi dan Motivasi


Menyandang sebutan Guru Berprestasi memang terasa sejuk dihatiku. Apa yang selama ini kulakukan dengan penuh ketulusan, pengabdian yang telah kupersembahkan dengan segenap pengorbanan,  berbuah penghargaan yang tidak kusangka-sangka. Sebagai manusia, aku merasa bangga dan tersanjung. Sekian banyak orang mendambakan predikat itu, dan ternyata aku termasuk orang beruntung yang berhasil mendapatkannya. Sejak menjadi siswa di SPG Negeri Samarinda, aku berhasil menjadi Siswa Teladan Tahun 1997, kini menjadi Guru Berprestasi di Kabupaten Tahun 2010, atas amanah ini, semakin menguatkan tekadku untuk berusaha lebih keras lagi dalam berpikir dan berbuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerahku. Apa yang selama ini kulakukan masih jauh dari harapanku sendiri, upayaku belum berarti apa-apa, keinginanku jauh lebih besar dari apa yang telah kupersembahkan. Semua ini harus dapat aku wujudkan dimasa yang akan datang, aku harus bisa menjadi teladan rekan sejawat dan aku akan berupaya untuk hal itu. Ini adalah beban sekaligus juga peluang bagiku untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Bagiku, Predikat Guru Berprestasi bukanlah tujuan, tapi adalah sarana untuk mewujudkan mutu pendidikan yang lebih  baik lagi ke depannya. Haruslah disadari, betapapun sempurnanya program peningkatan mutu pendidikan tanpa didukung oleh keterandalan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas tentu tak akan memberikan hasil yang memadai. Sedangkan sekarang ini, kondisi riil guru-guru kita di lapangan sungguh beragam kualitasnya dan masih dalam kategori memprihatinkan. Pelaksanaan program pendidikan di lembaga formal, khususnya di pedesaaan masih terkesan 'apa adanya'. Terkesan sebagai upaya 'daripada tidak ada'.  Dan guru sebagai agen perubahan masih perlu mendapat perhatian 'lebih' dari pemerintah dan masyarakat.

Terkait dengan itu maka predikat Guru Berprestasi yang telah kuraih, dimana aku 'notabene' adalah seorang guru di pedesaan kiranya dapat menjadi 'inspirasi' bagi rekan sejawat untuk segera menyadari dan bergegas meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam mengelola pembelajaran. Saatnya guru meningkatkan kreatifitasnya dalam mengajar di kelas sebab kreatifitas guru adalah roh dari peningkatan prestasi anak, roh dari peningkatan mutu pendidikan. Karena hanya dengan itu, mutu pendidikan kita ini baru dapat kita tingkatkan. Seirama dengan itu, masyarakat dan pemerintah juga akan lebih maksimal dalam memberikan perhatian dan penghargaannya kepada guru dan warga sekolah lainnya.

Semoga keberhasilanku dalam meraih Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2010 ini menjadi inspirasi dan motivasi para guru-guru kita untuk terus meningkatkan kinerja di masing-masing satuan pendidikan. Agar peningkatan mutu pendidikan bangsa kita ini lebih cepat dapat kita wujudkan. Amin.

Kelapa Sawit, Masa Depan Sedulang


Tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Sedulang telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan warga desa Sedulang. Lebih kurang 450 ribu ha hutan di wilayah desa Sedulang yang dahulunya sepi bahkan terkesan angker karena jarang terjamah manusia, kini telah disulap menjadi ‘taman kelapa sawit’ yang cukup indah dipandang.  Sesayup mata memandang kebun kelapa sawit milik beberapa perusahaan ini, menghijau, memberikan harapan baru bagi segenap warga di sekitar perkebunan ini.
Warga nelayan yang biasanya menggantungkan hidupnya pada alat-alat nelayan tradisional seperti ; bubu, rawai, rengge, tamba, dlsb, kini sudah banyak yang beralih menjadi karyawan perkebunan. Bahkan ibu-ibu dan remaja putri juga telah banyak yang bekerja sebagai karyawan perusahaan perkebunan. Mereka tidak lagi menggantungkan nasib pada musim ‘danauan’ atau musim ‘rawaian’ tapi sudah berganti dengan musim panen atau masa ‘gajihan’.
Perahu (gubang) dan ces (ketinting) yang dahulu menjadi sarana utama dalam tiap kepala keluarga, kini telah berganti dengan sepeda motor. Hampir dalam setiap kepala keluarga di Sedulang memiliki kendaraan bermotor sebagai fasilitas andalan untuk mencari nafkah dalam menghidupi keluarga. Istilah ‘menggantungkan nasib di polok gubang’ tampaknya secara perlahan akan terkubur.
Perubahan di atas hanyalah babak awal dari dinamikia kehidupan yang bakal dialami warga desa Sedulang dengan adanya perkebunan kelapa sawit di wilayah ini. Akan lebih besar lagi pengaruhnya apabila perkebunan kelapa sawit ini sudah mengalami masa panen. Pendeknya warga desa sekitar perkebunan kelapa sawit ini akan mengalami perubahan yang lebih cepat, lebih baik dibandingkan jika hutan tersebut tidak diubah menjadi kebun sawit.   Artinya keberadaan perkebunan kelapa sawit di wilayah ini sangat diharapkan untuk mempercepat perkembangan atau kemajuan suatu daerah. Beruntunglah desa Sedulang memiliki areal yang cukup luas dan telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit yang sebentar lagi akan menikmati masa ‘panen’.
Semoga saja pola kemitraan yang menjadi landasan kebijakan Pemda mengembangkan perkebunan dapat mencapai sasarannya.  Sumber Daya Alam yang ada dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran atau kesejahteraan rakyat. Dengan termanfaatkannya SDA yang ada di wilayah Desa Sedulang ini, tentunya diharapkan kesejahteraan warga Desa Sedulang dan sekitarnya dapat ditingkatkan. Semua itu tergantung bagaimana sikap dan komitmen warga Sedulang sendiri dan realisasi  pola kemitraan dan kerjasama yang diterapkan oleh pihak perusahaan perkebunan yang beroperasi di wilayah ini. Keuntungan bagi semua pihak (masyarakat, perusahaan dan pemerintah) adalah sasaran yang mesti kita capai. Semoga hal ini menjadi perhatian kita bersama. 

Jumat, 02 Juli 2010

SELEKSI GURU DAN PENGAWAS BERPRESTASI KAB. KUKAR

Dua hari mengikuti Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara rasanya cukup memberi gambaran kepada saya bahwa sesungguhnya kita masih mempunyai semangat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kita masih memiliki harapan untuk bersaing dengan daerah lainnya dalam hal peningkatan mutu pendidikan ke depan. Gambaran itu saya peroleh setelah mencermati 'diskusi ringan' bapak-ibu guru dan pengawas yang mengikuti lomba tersebut.
Peserta yang 'notabene' utusan dari 18 kecamatan, tentunya adalah guru terbaik dari sekian guru yang ada di kecamatan tersebut. Terbukti selama mengikuti seleksi, para peserta telah memperlihatkan keunggulannya masing-masing. Baik dari aspek kepribadian, profesional, sosial dan aspek paedagogis memang . Seandainya potret guru-guru kita di lapangan semuanya sudah seperti ini, tentu hasil output pendidikan kita ke depan akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Kegiatan pemilihan guru berprestasi dan semacamnya memang perlu secara rutin diadakan dalam rangka memacu semangat, kreatifitas dan inovasi para pendidik kita. Hal ini sangat penting menjadi perhatian kita bersama mengingat keberhasilan pembelajaran di suatu sekolah pada akhirnya ditentukan oleh para pendidik. Guru adalah ujung tombak terdepan dalam upaya meningkatkan prestasi anak di sekolah.
Saya pribadi bersyukur telah mendapat kepercayaan menjadi duta guru berprestasi Kecamatan Muara Kaman. Bagi saya menang bukanlah tujuan dari kegiatan ini, predikat juara hanyalah sarana untuk memacu semangat, namun seandainya kemenangan dapat saya raih, tentu hal ini akan saya jadikan modal untuk berbuat, berjuang lebih keras lagi demi berpartisipasi meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan saya berada sesuai kemampuan saya.
Akhirnya, selamat berlomba... semoga keberhasilan menyertai langkah kita bersama, amin.