Dari beberapa pengalaman di negara lain kegagalan disentralisasi di akibatkan oleh beberapa hal, antara lain :
1.Masa transisi dari sistem sentralisasi ke desintralisasi memungkinkan terjadinya perubahan secara gradual dan tidak memadai serta jadwal pelaksanaan yang tergesa-gesa.
2.Kurang jelasnya pembatasan rinci kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan daerah.
3.Kemampuan keuangan daerah yang terbatas.
4.Sumber daya manusia yang belum memadai.
5.Kapasitas manajemen daerah yang belum memadai.
6.Restrukturisasi kelembagaan daerah yang belum matang.
7.Pemerintah pusat secara psikologis kurang siap untuk kehilangan otoritasnya.
Berdasarkan pengalaman, pelaksanaan disentralisasi yang tidak matang juga melahirkan berbagai persoalan baru, di antaranya :
1.Meningkatnya kesenjangan anggaran pendidikan antara daerah,antar sekolah antar individu warga masyarakat.
2.Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan masyarakat (orang tua) menjadikan jumlah anggaran belanja sekolah akan menurun dari waktu sebelumnya,sehingga akan menurunkan motivasi dan kreatifitas tenaga kependidikan di sekolahuntuk melakukan pembaruan.
3.Biaya administrasi di sekolah meningkat karena prioritas anggaran dialokasikan untuk menutup biaya administrasi, dan sisanya baru didistribusikan ke sekolah.
4.Kebijakan pemerintah daerah yang tidak memperioritaskan pendidikan, secara kumulatif berpotendsi akan menurunkan pendidikan.
5.Penggunaan otoritas masyarakat yang belum tentu memahamisepenuhnya permasalahan dan pengelolaan pendidikan yang pada akhirnya akan menurunkan mutu pendidikan.
6.Kesenjangan sumber daya pendidikan yang tajam di karenakan perbedaan potensi daerah yang berbeda-beda. Mengakibatkan kesenjangan mutu pendidikan serta melahirkan kecemburuan sosial.
7.Terjadinya pemindahan borok-borok pengelolaan pendidikan dari pusat ke daerah.
Untuk mengantisipasi munculnya permasalahan tersebut di atas, disentralisasi pendidikan dalam pelaksanaannya harus bersikap hati-hati. Ketepatan strategi yang ditempuh sangat menentukan tingkat efektifitas implementasi disentralisasi. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk tersebut ada beberapa hal yang perlu di perhatikan :
1.Adanya jaminan dan keyakinan bahwa pendidikan akan tetap berfungsi sebagai wahana pemersatu bangsa.
2.Masa transisi benar-benar di gunakan untuk menyiapkan berbagai hal yang dilakukan secara garnual dan di jadwalkan setepat mungkin.
3.Adanya kometmen dari pemerintah daerah terhadap pendidikan, terutama dalam pendanaan pendidikan.
4.Adanya kesiapan sumber daya manusia dan sistem manajemen yang tepat yang telah dipersiapkan dengan matang oleh daerah.
5.Pemahaman pemerintah daerah maupunDPRD terhadap keunikan dan keberagaman sistem pengelolaan pendidikan, dimana sistem pengelolaan pendidikan tidak sama dengan pengelolaan pendidikan daerah lainnya.
6.Adanya kesadaran dari semua pihak (pemerintah, DPRD, masyarakat) bahwa pengelolaan tenaga kependidikan di sekolah, terutama guru tidak sama dengan pengelolaan aparat birokrat lainnya.
7.Adanya kesiapan psikologis dari pemerintah pusat dari provinsi untuk melepas kewenangannya pada pemerintah kabupaten / kota.
Selain dampak negatif tentu saja disentralisasi pendidikan juga telah membuktikan keberhasilan antara lain :
1.Mampu memenuhi tujuan politis, yaitu melaksanakan demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan.
2.Mampu membangun partisifasi masyarakat sehingga melahirkan pendidikan yang relevan, karena pendidikan benar-benar dari oleh dan untuk masyarakat.
3.Mampu menyelenggarakan pendidikan secara memfasilitasi proses belajar mengajar yang kondusif, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas belajar siswa.
Buku elektronik bukanlah buku yang mempelajari tentang elektronik, melainkan berupa data-data atau informasi yang tampilannya dibuat seperti buku kemudian direkam secara elektronik agar dapat dijalankan di komputer.Kata “E-book” berasal dari bahasa Inggris, singkatan dari electronic book, dalam bahasa Indonesia artinya adalah buku elektronik.
Apa perbedaan e-book dengan buku biasa ?
Buku-buku yang kita pakai saat ini menggunakan kertas sebagai bahan bakunya sedangkan e-book ditampilkan dengan menggunakan monitor atau layar komputer. Selain itu, buku-buku yang saat ini kita gunakan merupakan warisan teknologi cetak Guttenberg. Buku seperti ini memiliki beberapa kekurangan, di antaranya jika semakin banyak halamannya, maka akan semakin tebal pula buku yang kita miliki dan kadang ukurannya pun menjadi lebih besar, sehingga tidak praktis untuk dibawa ke mana-mana. Selain itu, biaya mencetak buku pun biasanya tidak murah. Sedangkan pada e-book, data atau informasi yang ada bisa disimpan dalam disket atau alat penyimpan lainnya dan dapat dibuka dikomputer mana saja. Lebih praktis bukan?
Dilihat dari isinya, isi buku elektronik sama saja dengan isi buku biasa. Ada cerita, pelajaran, berita, gambar dan sebagainya. Isi buku elektronik direkam secara elektronis sebagai data dan disimpan di dalam komputer. Penerbit buku akan mengiklankan buku yang baru terbit dengan cara mengiklankannya di internet. Jika kita tertarik, kita bisa langsung memesannya melalui internet dan membayarnya secara online. Biasanya bukti transfer harus dikirimkan atau di fax ke alamat penerbit. Setelah membayar, baru kita dapat mengambilnya (mendownload) dari internet. Nah, setelah proses download selesai, e-book tersebut akan tersimpan dalam komputer kita dan bisa kita baca kapan pun kita mau. Ada beberapa format eBook yang beredar di Indonesia, yaitu *.doc, *.exe, *.pdf, dan *.chm
1. DOC (MS Word Document)
Format ini biasa disebut dokumen mentah berupa kertas kerja dalam MS Word. Isinya sangat mudah untuk dibajak dan dimodifikasi. Jika kita ingin melindungi hasil karya kita dari tangan-tangan jahil sebaiknya jangan menggunakan format ini sebab tidak aman.
2.EXE(Application)
Ini termasuk bentuk eBook yang praktis, karena tak memerlukan software tambahan (Adobe Reader,dll) untuk membukanya. Selain itu, keunggulan dari format eBook ini ialah kemampuan untuk menjalankan script web. Dengan demikian, kita bisa memasukkan javascript, form pendaftaran, dan lain-lain. EBook berformat exe memang merupakan aplikasi berbasis halaman web yang dikompilasi menjadi satu file. Untuk membuat eBook EXE, kita perlu membangun beberapa halaman web (html). Ini bisa dilakukan dengan software seperti MS Frontpage, MS Word, dan lain-lain. Namun kelemahan dari format ini ialah paling lemah terhadap serangan virus, mengingat saat ini terdapat sangat banyak virus yang menyerang aplikasi.
3.PDF(PortableDocumentFormat)
eBook dengan format ini memerlukan software semacam Adobe Reader untuk membacanya. PDF ini tampaknya masih bertahan sebagai format eBook yang paling populer dan paling banyak digunakan. Kebanyakan direktori eBook gratis menawarkan format ini. Proses pembuatannya diawali dengan mengetik seperti biasa di software pengolah kata (misalnya MS Word). Satu kelemahan yang saya temukan dari format ini ialah rentan terhadap pembajakan. Orang bisa melakukan reverse engineering dengan cara mengkonversi eBook PDF kembali menjadi word. Kemudian ia bisa mengganti informasi pengarang (mengklaim sebagai karyanya), lalu mengubahnya lagi menjadi PDF. Karena itu, pastikan Anda memproteksi eBook PDF Anda dengan password untuk mencegah pengeditan(modifikasidokumen).
4.CHM(MSCompiledHTMHelp)
CHM awalnya dikembangkan Microsoft sebagai format helpfile atau user manual untuk membantu pengguna software mereka. Selanjutnya banyak penulis memanfaatkan format ini dan menggunakannya sebagai eBook. Tapi kebanyakan pembaca merasa tidak nyaman karena format ini memiliki keterbatasan-keterbatasan. Selain itu, CHM juga sulit dikonversikedalamformatlain.
Di bawah ini ada beberapa tips yang perlu di perhatikan dalam pembuatan eBook ;
1.Angka dan link
idealnya, setiap footer halaman eBook diberi link web, logo atau nomor anda.
2.Menarik
sebuah eBook harus didesain dan berisi tentang berita yang menarik sehingga pembaca tidak bosat saat mempelajarinya
3.Cari perbandingan
anda bisa membandingkan Ebook2 yang telah beredar di pasaran supaya dapat bersaing dengan mereka
4.Berpikir Terbaik
saat membuat eBook berpikirlah anda sedang membuat eBook best seller, agar semua kemampuan anda tercurah sehingga menghasilkan karya yang sempurna
5.Konversi ke PDF
begitu anda yakin telah menciptakan draft terakhir eBook anda, kini saatnya mengonversinya menjadi produk jadi.
Ciri-Ciri eBook Ideal, antara lain ;
* Jelas ( penulisan dan isinya)
* Format khas ( sesuai dengan apa yang dimaksud tidak berbelit2)
* Ukuran ( semakin kecil akan semakin bagus)
Kelebihan e-book
Teks dapat disunting secara otomatis dan saling berhubungan karena menggunakan hyperlink. Inilah faktanya sehingga membuat ebook menjadi format pilihan yang sangat baik. Ebook dapat memberikan Anda lebih dari sekedar buku cetakan. Sebagai contoh, Anda dapat menyimpan banyak buku ke dalam komputer. Anda dapat memberikan tanda pada halamannya dengan electronic bookmark dan lompat ke halaman yang dituju saat itu jugaketikamembukabuku.
Sedikit membutuhkan ruangan fisik diperlukan untuk menyimpan ebook. Ratusan (bahkan ribuan) memungkinkan untuk dibawa dalam satu device. Diperkirakan rata-rata 500 ebook dapat disimpan ke dalam CD (sepadan dengan harga beberapa rak buku cetakan) Karena mereka memakan sedikit tempat, ebook bisa ditawarkan untuk jangka waktu tidak terbatas, dengan bukan ‘dari cetakan’ tanggal, membolehkan pengarang terus mendapat royalti untuk jangka waktu tidak terbatas (undang-undang hak cipta mengizinkan) dan membolehkan pembaca menemukan karya yang lebih tua oleh pengarang kesayangan.
Para pembaca yang mendapatkan kesulitan ketika membaca buku konvensional mengeluhkan dari ukuran teks dan bentuk huruf. Dengan bantuan software Text-to-speech yang dapat mengubah ebook secara otomatis ke dalam bahasa buku. Beberapa ebook sudah terdapat di dalamnya kamus sehingga Anda dapat meng-klik pada kata yang dituju danmenemukanartinya.
Kekurangan e-book
Ebook membutuhkan perangkat tambahan spesialis untuk membaca, kebanyakan terutama perangkat elektronik untuk dapat ditampilkan (dengan bantuan listrik). Seperti halnya perangkat-perangkat yang harganya mahal. Dalam beberapa edisi, ada beberapa format ebook membutuhkan software khusus untuk menampilkannya, yang mungkin tidak tersedia secara gratis atau kompatibel dengan perangkat yang sudah terinstal pada komputer.
Membaca buku di komputer bisa membuat mata kita cepat lelah dan posisi duduk pun tidak bisa santai. Karena itu, lama-kelamaan orang memikirkan cara yang lebih praktis. Kemudian para ahli akhirnya membuat alat yang dinamakan PDA (Personal Data Assistant), dalam bahasa Indonesianya berarti Asisten Digital Pribadi atau lazim disebut applet.
Sayangnya, saat ini e-book belum banyak digunakan orang karena belum tersedianya alat baca (applet) yang benar-benar nyaman dan murah. Tetapi para ahli masih terus mengembangkan applet ini, sehingga nantinya diharapkan e-book dapat digunakan oleh anak-anak untuk membaca tanpa perlu repot membawa buku yang banyak dan tebal.
OnlineComputerBooks.com merupakan salah satu alamat untuk mendapatkan buku-buku komputer gratis, ebooks gratis, buku pemrograman gratis, buku online gratis dan bab sampel yang berhubungan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Ilmu Komputer, Internet, Teknik, Bisnis, Pemasaran, Matematika, Elektronika, Fisika dan Ilmu Pengetahuan yang disediakan oleh penerbit atau penulis di situs Web mereka secara legal dan gratis.
Gemuruh tepuk tangan warga menyambut janji dan komitmen PT. AEK yang disampaikan seorang humas salah satu perkebunan sawit yang beroperasi di wilayah desa Sedulang, Kecamatan Muara Kaman. Rasanya segenap hadirin sudah terhibur dengan pernyataan humas di depan podium. Janji dan komitmen untuk membantu pembangunan SDM sebagaimana yang pernah juga terucapkan ketika pertama perusahaan ini datang di desa ini sungguh enak di dengar.
Kalau ketika pertama kali mendengar janji itu beberapa tahun silam saya sumringah namun kali ini saya tak tergerak untuk bertepuk tangan, saya tak merasa gembira seperti dulu. Saya hanya bisa tersenyum kecil sambil mengingat-ingat apa yang pernah dibantu perusahaan ini dalam bidang pendidikan. Sulit memang mengingatnya karena dari beberapa proposal sekolah swasta yang pernah saya ajukan dalam beberapa tahun, baru terpenuhi 2,5 juta rupiah dan janji beasiswa untuk anak berprestasi tak kunjung ditepati.
Bukannya tidak mensyukuri pemberian yang pernah diterima atau bukan juga karena tidak mempercayai janji dan komitmen yang terucapkan malam ini sehingga saya tak turut bertepuk tangan. Tapi saya ingin menyimpan tepuk tangan saya sampai semua janji itu bisa terbukti. Agar bila hal itu terjadi, tepuk tangan dan kegembiraan itu menjadi pantas untuk saya berikan.
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memasukkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam salah satu program prioritasnya. TIK dianggap memiliki peran besar dalam upaya memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. TIK memungkinkan terjadinya proses belajar efektif, menyediakan akses pendidikan untuk semua, memfasilitasi terjadinya proses belajar kapan saja dan di mana saja.
Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, pemanfaatan TIK hendaknya tidak hanya berkutat pada penyediaan perangkat keras saja. Menurut dia, TIK hendaknya diletakkan sebagai aspek kultur dan budaya para pendidik. "Tantangan terbesar kita bukan pada perangkat keras dan jaringan, tetapi bagaimana budaya TIK menjadi bagian dari para guru kita dalam memberikan proses-proses pembelajaran di kelas - kelas," katanya saat mewakili Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada pembukaan International Symposium On Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2009 di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Rabu (9/12/2009).
Membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Dodi menyampaikan, pemanfaatan TIK untuk pendidikan terjadi melalui empat tahapan yaitu konektivitas, transaksi, kolaborasi, dan transformasi. Pemerintah, kata dia, telah dan akan terus memfasilitasi terjadinya konektivitas, salah satunya melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Dia menyebutkan, saat ini Jardiknas telah menghubungkan 25.382 titik yang terdiri atas lebih dari 18.080 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan 363 perguruan tinggi, 939 kantor dinas pendidikan di tanah air, serta 6.000 guru. "Ke depan jumlah ini masih akan bertambah," katanya.
Sementara, lanjut Dodi, pada tahap transaksi, pemanfaatan TIK akan memberikan akses dan kemudahan terjadinya pertukaran dan kesempatan berbagi pengetahuan antar berbagai pihak dalam komunitas pendidikan. Kolaborasi merupakan tahapan berikutnya dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. "Pemanfaatan TIK dalam pendidikan tidak pernah luput dari jaringan kerja sama yang kuat dalam bentuk jejaring atau konsorsium pendidikan yang melibatkan berbagai pihak dan sektor," katanya.
Adapun pada tahap transformasi, Dodi menjelaskan, TIK merupakan pengungkit dari proses transformasi pendidikan menuju pendidikan modern. "TIK membawa beragam perubahan dalam tradisi dan budaya pendidikan yang harus dicermati dengan bijak oleh berbagai pihak yang terlibat," katanya.
Dodi mengatakan, dengan TIK, perguruan tinggi diharapkan dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi kelas dunia, dan sekolah-sekolah menjadi sekolah berstandar internasional yang memiliki daya saing dalam percaturan pendidikan tingkat global. "Keberhasilan proses transformasi budaya pendidikan di tanah air akan tercapai jika TIK tidak ditempatkan sebagai teknologi yang kosong. Untuk itu, diperlukan konten yang mengisi teknologi tersebut, serta sumber daya manusia terutama guru yang terampil memanfaatkan teknologi secara tepat, sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai," katanya.
Dodi menambahkan, sejak tahun 2008 Depdiknas telah berkolaborasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dalam menyediakan konektivitas untuk sekolah melalui Program Desa Berdering. Sinergi antara program desa berdering dan Jardiknas saling melengkapi. "Program Desa Berdering memperkuat dengan telepon, kami memperkuat sekolah dengan jaringan internetnya, sehingga guru - guru, siswa - siswa, dapat belajar dari internet dibackup oleh Jardiknas. Mudah - mudahan makin sempit desa - desa yang tidak dapat diakses oleh jaringan telekomunikasi. Ini sangat penting, bukan hanya di pendidikan, tetapi berbagai aspek kehidupan seperti hubungan individu, perdagangan transaksi, dan sosial," katanya.
Menjawab pertanyaan wartawan usai acara, Dodi mengatakan, pelaksanaan program TIK yang tertuang pada rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2004 - 2009 ini didanai murni dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Di sisi lain, pemerintah terbuka dalam menjalin kerja sama dengan pihak manapun. "Kami tidak sama sekali mengandalkan bantuan luar negeri. Adapun dalam kerja sama kami welcome," ujarnya.
Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Depdiknas Lilik Gani menyampaikan, terkait Program 100 Hari Depdiknas untuk menyediakan konektivitas TIK bagi 17.500 sekolah, per 8 Desember 2009 telah terhubung 17.324 titik. Dia merinci, sebanyak 8.307 jenjang SD, 5.284 SMP, 1.586 MI, dan 2.147 MTs. "Jadi sudah 98,99 persen," katanya.
Lebih lanjut Lilik menyebutkan, jika digabung dengan sebanyak 7.222 titik di jenjang SMA/MA/SMK total yang terkoneksi sebanyak 24.546 titik. "Program 100 Hari hanya untuk SD dan SMP sederajat," ujarnya.
Sumber: Pers Depdiknas, Yogyakarta, Rabu (9 Desember 2009)